News

Daya Beli Masyarakat Turun, Erani Bantah Kritik Agus

Ahmad Erani Yustika

Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika memberikan respon terkait pernyataan Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY. Pernyataan Agus mengenai rendahnya daya beli masyarakat, menurut Erani datanya sama sekali tidak akurat.

“Saya sebagai ekonom kalau berbicara itu menggunakan teori dan data-data akurat yang menunjang itu semua. Nah dari hal-hal semacam ini (pernyataan Agus), konteks daya beli yang dimaksud itu tidak ada data-data pendukungnya,” ujar Erani kepada Kompas.com, Rabu tanggal 13 Juni 2018.

Seperti yang diketahui, Agus telah menggelar pasar murah. Agus menggelas pasar murah tersebut untuk memudahkan masyarakat. Menjelang lebaran, tentu kebutuhan masyarakat meningkat.

“Kami tahu akhir-akhir ini atau menjelang Lebaran, harga-harga juga bisa naik. Di belakang ini banyak kampung-kampung, ada dua RW dan dari pagi sudah ramai, habis cepat kuponnya,” kata Agus.

Namun, secara keseluruhan antusiasme masyarakat yang berbelanja di pasar tersebut tidak besar. Sehingga Agus menyimpulkan, daya beli masyarakat kini menurun.

“Dari pagi sudah ramai, habis cepat kuponnya. Artinya apa? ini juga in line dengan apa yang saya sampaikan beberapa saat lalu dalam orasi di bulan Ramadan bahwa di sana sini masyarakat kita memang merasakan penurunan daya beli, penurunan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya,” kata AHY di kantor AHY Foundation, Jakarta pada Rabu, tanggal 13 Juni 2018.

Ahmad-Erani

Agus pun menyampaikan pidato pada hari Sabtu tanggal 9 Juni 2018. Dalam pidatonya Agus menyampaikan kritik terhadap Jokowi dan Jusuf Kalla. Kritik tersebut juga termasuk daya beli masyarakat yang menurun. Menurut Agus, penurunan daya beli masyarakat terjadi dalam hal pemebuhan kebutuhan pokok.

Tak hanya itu, daya beli masyarakat untuk kebutuhan lainnya juga menurun. “Ini dirasakan di berbagai wilayah tanah air termasuk Jakarta,” kata Agus.

Pernyataan Agus menurut Erani, diambil berdasarkan kerangka berpikir yang tidak pas. Karena jika berdasarkan teori, indikator daya beli masyarakat terbagi dua.

Pertama, apabila pendapatan naik dengan asumsi harga barang tidak naik, daya beli masyarakat pasti meningkat.

Kedua, apabila harga barang meningkat dengan asumsi pendapatan tetap, barulah daya beli masyarakat menurun. Indikator pertama adalah menyangkut pendapatan yang erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi yang baik, berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Sehingga daya beli masyarakat juga akan membaik.

Ahmad-Erani-Yustika

“Sekarang kita cek data. Pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah 2014 itu selalu 5 persen, bahkan ada yang di atasnya, walaupun tipis. Artinya tidak ada intensi pertumbuhan ekonomi menurun sehingga menyebabkan pendapatan masyarakat turun pula,” kata Erani.

Menurut Erani, selama pemerintahan Jokowi, inflasi dapat dikendalikan dengan baik. Dalam catatanya, inflasi tidak pernah melunjak melebihi 3,6 persen sejak tahun 2015.

“Jadi artinya kalau kita menggunakan data-data ekonomi pendukung tadi, pertumbuhan ekonomi dan inflasi, kesimpulannya tidak ada penurunan daya beli,” jelas Erani.

Kemudian, Erani pun meminta Agus untuk segera melengkapi pernyataannya dengan bukti dan fakta yang akurat.
Agus mengatakan niatnya hanya ingin membantu masyarakat. Maka ia pun tergerak untuk melakukan suatu upaya.

Meskipun upaya yang ia lakukan tidak besar, setidaknya bisa membantu masyarakat yang membutuhkan. Paling tidak, masyarakat bisa merasakan manfaat dari upaya yang dilakukan oleh Agus.

“Oleh karena itu daripada kita sibuk mengatakan itu tidak terjadi, saya ingin menjadi bagian dari solusi walaupun kecil-kecilan. saya pikir tidak ada salahnya, yang penting niatnya baik dengan tujuan dan cara-cara yang baik. yang jelas masyarakat merasakan manfaatnya,” tutur Agus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top