News

Hukum Adat di Jawa Barat

Hukum Adat di Jawa Barat

Hukum Adat di Jawa Barat – Adat merupakan aturan yang diwariskan oleh nenek moyang kepada masyarakat setempat. Biasanya berupa hukum atau aturan aturan yang dianggap sakral.

Hukum adat dari satu daerah dengan daerah lainnya pasti sangat beda. Misalnya hukum di Batak Laki-laki lebih dominan di bandingkan dengan perempuan.

Sedangkan adat minang sebaliknya, perempuan lebih dominan di bandingkan laki-laki. Di indonesia banyak sekali adat-adat yang tersebar dari sabang sampai merauke.

Bahkan di Kalimantan terdapat kampun dimana penghuninya dari luar Indonesia yaitu tiongkok. Namun sebagian besar masyarakat indonesia merupakan suku sunda. Lalu bagaimana adat di suku sunda?

Hukum di ranah sunda tentu saja berbeda dengan yang ada di daerah lain. Salah satunya jika ada pernikahan adalah istilah “saweran”.

Saweran merupakan, Pelemparan beras oleh pengantin kepada para tamu undangan setelah upacara pernikahan dilangsungan selain ada beras biasanya juga disertai dengan uang logam dan permen.

Sedangkan untuk daerah jawa biasanya sebelum pernikahan adanya istirlah “siraman” atau mandi kembang. Siraman merupakan proses memandikan calon pengantin dengan bunga-bunga dan wewangian dan disertai dengan doa-doa.

Selain itu di suku sunda atau daerah Jawa Barat biasanya pernikahan dilangsungkan di tempat tinggal orang tua perempuan.

Lalu setelah menikah dan menjadi pasangan suami istri, pengantin baru ini harus tinggal terlebih dahulu dirumah orang tua perempuan untuk beberapa hari, barulah setelah itu sang suami membawa pergi istri ke rumah pribadinya maupun kerumah orang tua laki-laki tersebut.

Selain itu jika perempuan hamil memasuki empat bulan biasanya mengadakan syukuran dan pada saat memasuki tujuh bulan biasanya mengadakan syukuran dan membuat petis atau rujak.

Di Jawa Barat tidak ada sistem suku yang akan mempengaruhi kepada status sosial dan pembagian harta warisan. Jika mereka bercerai, untuk warisan biasanya di bagi dua jika mereka belum punya anak.

Dan jika kedua orang tua telah tiada, biasanya semua anak yang ditinggalkan mendapatkan harta warisan. Berbeda dengan suku.

Batak dan suku Bugis, jika ada hal seperti itu maka yang mendapat keuntungan adalah pihak laki-laki, karena di suku Batak dan suku Bugis, mengikuti suku dari ayah atau pihak laki-laki.

Sedangkan di suku minang mengikuti suku ibu atau pihak perempuan. Jadi jika ada pembagian warisan yang berhak mendapatannya adala pihak perempuan.

Di Masyarakat Sunda juga terdapat daerah-daerah yang masih menganut hukum adat yang sangat kental. Salah satunya daerah di Tasikmalaya Kampung Naga.

Di Kampung Naga jumlah rumah harus tetap tidak boleh bertambah maupun berkurang. Dan juga di Kampung Naga tidak terdapat listrik. Jadi sumber pencahayaan pada malam hari menggunakan lampu dari minyak.

Ada juga di daerah Garut Kampung Dukuh. Di Kampung Dukuh kurang lebih sama seperti di Kampung Naga.
Hukum-hukum yang masih berlaku di masyarakat tersebut wajib kita lestarikan dan kita hargai walaupun kita tidak menganut sistem kepercayaan seperti merka.

Misalnya kita sedang berada di suatu daerah kita harus mengikuti dan menghargai hukum yang berlaku di masyarakat tersebut. Seperti kata pepatah dimana tanah dipijak disana langit dijunjung.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Sudahkah Buah Hati Bebas Dari Bullying Di Sekolah? - BeritakuBaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top